Seorang wanita berjalan menyusuri jalan setapak di sebuah desa kecil pinggiran kota Yogyakarta. Wanita itu membawa sebuah nampah yang berisi gorengan. Wanita itu masih tetap berjalan mencari pembeli yang ingin membeli gorengan tersebut.
“Gorengan... gorengaaan....” teriak ibu tersebut sambil menyeka keringat yang bercucuran.
“IBUUUU!!!” seorang anak laki-laki berlari menghampiri wanita tadi.
“Ozy? Kamu kenapa disini nak?” tanya wanita tadi.
“Kak Rio kecelakaan bu..” kata anak yang bernama Ozy tadi.
“APA? Dimana Kak Rio sekarang?”
“Kak Rio ada dipuskesmas bu sama ayah”
“Yaudah, ayo kesana sekarang!”
***
“AAAAAAAAAH!!!!”
Sebuah mobil merah dengan kecepatan penuh menabrak seorang laki-laki yang hendak menyebrang jalan. Laki-laki itu sudah tidak sadarkan diri, para warga segera membawa laki-laki itu ke puskesmas terdekat.
***
“RIOOO!!!” teriak wanita paruh baya tadi, ia segera memeluk anak laki-lakinya itu.
“Ngapain ibu kesini?” tanya anak laki-laki yang dipanggil Rio itu.
“Tadi Ozy nyusul ibu waktu ibu jualan, katanya kamu kecelakaan. Gimana keadaan kamu nak?”
“Tumben ibu peduli sama Rio?”
“RIO! Kamu nggak boleh ngomong gitu! Dia ibu kamu!” bentak Kiki sang ayah.
“Ibu? Ibu macam apa sih yang tega bikin anaknya cacat?”
“RIO!!”
“Udah lah Yah, emang ini semua salah ibu kok. Kalo ibu nggak nyuruh dia buat kepasar pasti nggak bakal kejadian” kata Ibu yang bernama Rahmi tadi.
“Tuh! Ibu aja nyadar! Kenapa ayah marah-marah”
***
Pagi itu Ozy terlihat mengayuh sepeda satu-satunya itu. Wajahnya tampah pucat, ia sangat kelelahan. Setiap harinya ia harus mengayuh sepedanya sejauh 11km untuk sampai kesekolahnya. Sesampainya disekolah ia disambut oleh sahabat dekatnya, Ray.
“Ozy!!” teriak Ray yang telah menunggu Ozy didepan kelas.
“Ray!! Tumben kamu udah sampai?” tanya Ozy heran.
“Yeee, aku juga bisa dateng pagi dong. Emangnya si Dedepong itu yang datengnya jam 8 pagi? Haha”
“Udah ayok masuk!”
“Tunggu.. kamu udah makan?”
“Eeeh, aku belum makan”
“Makan dulu yuk! Aku yang beliin deh!” ajak Ray sambil menarik tangan Ozy.
***
Kiki terlihat sibuk menambal ban di bengkel miliknya. Matahari sudah tenggelam tapi baru satu orang yang menambalkan bannya.
“Mas, bisa cepetan dikit nggak sih! Gue buru-buru tau!” kata seorang perempuan yang berumur 28 tahun.
“Iya mbak, sebentar lagi selesai. Mbak bisa nunggu diwarung saya. Ngobrol-ngobrol sama Istri saya”
“Yaudah deh! Buruan ya mas!”
Perempuan itu berjalan kewarung yang berada disamping bengkel tadi. Ia menghampiri Rahmi yang sedang membuat teh panas.
“Mbak, tehnya satu ya!” kata perempuan tadi.
“Iya mbak!” kata Rahmi sambil membawakan secangkir teh.
“Mbak, itu suami mbak?” kata perempuan tadi.
“Iya, itu suami saya. Kenapa mbak?”
“Enggak apa kok. Hmm, panggil gue Sivia aja ya. Nggak enak kalo mbak kayaknya tuaannya mbak. Hehe”
“Oooh, iya”
“IBUUU!! Obat Rio dimana?” teriak Rio dari depan pintu warung.
“Dimeja dekat pintu nak. Ambil sendiri yah!”
“Ambilin dong bu!! Ibu tega amat sih sama anak sendiri! Udah tau anaknya gak bisa jalan!”
“Kak Rio! Ibu lagi sibuk! Yaudah aku yang ambilin” kata Ozy yang sudah berdiri disamping Rio.
“Itu anak mbak?” tanya Sivia yang masih heran dengan Rio.
“Iya Siv, kenapa?”
“Mbak udah punya anak berapa?”
“Dua. Yang gede 16 tahun, yang satunya 12 tahun”
***
Sivia duduk dipinggir kolam renang rumahnya. Ia masih heran dengan Rio. Ia merasa pernah melihat Rio. Tadi dia lupa dimana.
“Kak Sivia? Kakak kenapa sih dari tadi bengong mulu” kata Ify, adik tercinta Sivia.
“Ify? Kakak nggak apa kok. Kakak cuma kepikiran sama anak cowok yang kemarin”
“Siapa kak? Kakak kan udah punya kak Alvin. Jangan main-main deh kak”
“Bukan gitu Fy. Kemarin waktu ban motor kakak kempes kakak tambalin dideket rumahnya Alvin. Trus kakak mampir kewarung deket situ. Pas diwarung itu kakak ketemu sama anak yang punya warung. Kakak masih penasaran sama anak itu. Kayaknya kakak pernah ketemu deh sama dia”
“Hah? Kakak kewarung? Malu-maluin banget sih kak!”
“Idiiih, biarin dong!”
“Udah ah! Oooh iya kak. Cowok yang kakak ceritain tadi umurnya berapa? Mungkin Ify bisa bantu kakak inget-inget”
“Umurnya 16 tahun. Kemarin kakak tanya sama ibunya”
“Berarti seumuran sama Ify. Tapi Ify nggak punya temen yang anaknya tukang warung deh kak”
“Bukan temen kamu. Kalo temen kamu kakak pasti udah ngenalin dia”
“Siapa dong kak?”
“Tunggu... tunggu... kamu inget kan waktu kita mau ke mal? Sebelum ke mal kita sempet nabrak orang?”
“Hmm, iya kak”
“Nah! Rio itu yang kita tabrak!!”
“Hah? Mana mungkin sih kak”
“Kakak inget banget wajah dia. Dia tinggi, kulitnya agak gelap. Kamu inget kan?”
“Iya kak, aku inget. Tapi masak sih kak”
“Besok kakak bakal anter kamu kewarung kemarin biar kamu tau wajah si Rio itu”
“Terserah kakak aja deh”
***
Rahmi terlihat sedang menjemur pakaian dibelakang rumahnya. Dengan bantuan tongkatnya Rio berjalan menghampiri Rahmi.
“Ibu! Rio laper, kok belum ada makanan sih!”
“Ibu belum sempet masak nak. Ibu masih nyuci baju, habis itu baru masak”
“Halaaah!! Ibu nggak berguna! Ngerjain urusan rumah tangga aja lama!” bentak Rio sambil mendorong Rahmi hingga terjatuh.
“Kak Rio!” teriak Ray dan Ozy.
“Ngapain lo berdua disini? Hah?”
“Seharusnya Ozy yang tanya ke kakak! Kenapa kakak disini? Kakak ngapain Ibu?” tanya Ozy sambil berjalan mendekati kakaknya.
“Heh! Lo tuh masih kecil! Nggak usah ikut campur deh!”
“Maaf kak, bukannya Ray mau ikut campur. Tapi tante Rahmi itu Ibu kakak. Mau gimanapun tetep ibu kakak. Kakak nggak boleh gitu sama ibu kakak” kata Ray bijak.
“Heh gondrong! Anak bau kencur aja sok bijak!”
“Kakak nggak usah ngatain temen aku dong!”
“Bodo!”
Rio segera pergi meninggalkan Rahmi, Ray, dan Ozy. Ozy membantu Rahmi berdiri sedangkan Ray masih terpaku ditempatnya. Ia tidak menyangka Rio berubah 180 drajat. Rio yang dulu baik sekarang berubah.
***
Ify dan Sivia datang kerumah Rio. Sivia berniat untuk meminta maaf karena telah menabrak Rio. Sivia sangat yakin kalau Rio lah orang yang mereka tabrak beberapa hari yang lalu.
“Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam..”
“Mbak Rahminya ada?” tanya Sivia ramah.
“Nyari ibu-ibu nggak berguna itu ya?” kata Rio sinis.
“RIO!! Udah berapa kali sih ayah bilang, Rahmi itu ibu kamu!” kata Kiki yang baru saja pulang.
“Ibu? Dia bukan ibu aku!” kata Rio.
“Ri.. ri.. rio... Ibu nggak nyangka kamu udah berubah kaya gini. Sebenernya setelah kecelakaan itu ibu udah nggak kuat lihat keadaan kamu yang berbeda dari yang dulu. Kalau aja kamu tahu, sejak kejadian itu ibu terkena penyakit jantung” kata Rahmi yang menyusul keluar. Wajahnya terlihat pucat.
“Halaaah!! Itu Cuma akal-akalan ibu aja kan? Itu akal-akalan ibu biar Rio bisa balik kaya dulu kan? Nggak bakal mempan bu!” kata Rio.
“Assalamualaikum.. ada apa tante kok ribut-ribut?” tanya Ray yang baru saja bermain dengan Ozy.
“Gondrong lagi! Ngapain sih lo ikut-ikut urusan orang gede!”
“Maaf kak kalo aku salah”
“Udah-udah!! Kalo kamu udah nggak anggap Rahmi ibu kamu, lebih baik kamu pergi dari sini!” kata Kiki yang mulai emosi.
“OK! Kaloo emang itu mau ayah Rio bakal pergi!!”
“Rio... kamu jangan pergi nak. Ibu sayang sama kamu nak” kata Rahmi sambil menarik tangan Rio.
“Omong kosong!”
***
Sore itu Ify berjalan-jalan ditaman sendirian. Ia masih kaget dengan kejadian kemarin. Ia tidak menyangka ada anak yang begitu tega dengan ibunya. Saat melewati kolam ia bertemu dengan Rio.
“Hay Rio!” sapa Ify.
“Eh.. lo bukannya cewek yang kemarin?”
“Iya.. oh iya kenalin gue Ify. Gue adiknya Sivia”
“Rio”
“Gue udah tau nama lo kali. Ooh iya sebenernya kemarin gue mau minta maaf sama lo sekeluarga”
“Buat apaan?”
“Soalnya yang nabrak lo itu gue sama kakak gue. Maafin gue sama kakak gue ya?”
“Udahlah nggak apa”
“Beneran? Tapi gara-gara gue juga kan lo jadi berubah”
“Jangan bawa-bawa sifat gue yang berubah”
“Ok maaf. Hmm.. eh iya lo udah tau belum kalo ibu lo masuk rumah sakit?”
“Halah! Ngibul kan lo..”
“Idiiih orang gue kaga ngibul. Tadi pagi gue habis kesana. Jangan-jangan lo nggak tau?”
“Emang gue nggak tau”
“Ya Allah Rio.. jadi dari kemarin lo nggak balik kerumah? Lo belum nyadar apa kalo yang lo lakuin itu salah!”
“Iya gue nggak balik kerumah. Buat apa coba gue balik?”
“Rio.. ibu lo lagi mempertaruhkan nyawanya di rumah sakit. Harusnya lo tuh doain ibu lo bukan marah sama ibu lo. Lo sadar nggak sih seberapa besar pengorbanan ibu lo buat lo. Dari mulai lo dikandungan sampe sekarang lo udah gede?”
“Lo itu sama aja ya kaya orang rumah suka ngenasehatin gue”
“Rio, gue cuma mau lo sadar. Gue kasihan sama ibu lo. Waktu tadi gue disana, dia manggil nama lo terus. Dia pengen lo baik kesana”
“Buat apa sih gue balik? Nggak ada gunanya juga”
“Rio.. semua orang itu berguna. Kalo nggak berguna buat apa kita ini ada?”
“Udah lah gue capek!”
“Rio.. gue mohon banget sama lo. Tolong lo minta maaf ke ibu lo. Dia yang ngelahirin lo, kalo dia nggak ada lo juga bakal nggak ada. Inget siapa yang ngajarin lo makan, ngajarin lo minum, ngajarin lo jalan, ngebelai elo, jagain elo waktu sakit. Jasa seorang ibu nggak bakal bisa kebales Yo. Pliss banget, gue pengen lihat lo sekeluarga bahagia. Lagian lo nggak bisa jalan bukan gara-gara ibu lo. Tapi gara-gara gue sama kakak gue”
“Lo bener Fy.. gue harus minta maaf sebelum terlamabat” Rio berdiri dan berjalan meninggalkan Ify.
“RIO!!! Tunggu gue! Biar gue yang nganter lo!”
***
Rahmi terbaring lemah diranjang rumah sakit ditemani Kiki, Ozy, dan Ray. Ify dan Rio yang baru datang langsung menghampiri mereka.
“Ibu.. maafin Rio ya bu. Rio udah keterlaluan sama Ibu. Sekarang Rio udah sadar bu kalo semua ini bukan salah ibu”
“Ri... ri... ri... rio... Ibu udah maafin kamu kok... maafin ibu juga ya Rio kalo emang ibu belum bisa jadi ibu yang baik buat kamu”
“Iya bu. Ibu udah menjadi ibu yang baik kok”
“Makasih ya Rio. Kalo gini ibu udah bisa pergi dengan tenang”
“Ibu? Ibu nggak boleh ngomong gitu bu! Rio sayang sama Ibu! Ibu jangan tinggalin Rio”
“Ibu juga sayang sama Rio, Ibu juga sayang sama Ayah, Ibu juga sayang sama Ozy. Ibu sayang sama semuanya”
“IBUUU!!!!!!!!...”
Akhirnya Rahmi menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang. Rio tersenyum melihat Ibunya pergi dengan tenang, walaupun dalam hatinya ia masih belum bisa menerima semuanya.
***
Kau memberikanku hidup
Putih kasihmu kan abadi dalam hidupku
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar