Kenapa aku cinta kamu?
Hari ini, hari terakhir masuk sekolah sebelum liburan akhir semester tiba. Tentu saja hari ini juga hari pengambilan rapor, dan ini menentukan apakah aku bisa berlanjut ke kelas 9 atau tidak.
Pukul 06.30 aku sudah menjejakkan kakiku di sekolah yang cukup difavoritkan di kotaku ini, belum banyak siswa yang datang, tapi aura keramaian sudah terasa karena sekolahku berada di daerah yang ramai. Aku berjalan pelan menuju kelasku yang berada tak jauh dari gerbang. Pintu kelas sudah terbuka, aku segera masuk ke kelas dan duduk dibangkuku yang ada disamping jendela. Udara sejuk khas pagi hari menyeruak masuk ke kelas yang baru diisi olehku dan beberapa teman lainnya. Mataku terarah pada pemandangan di luar jendela yang langsung berhadapan dengan jalan raya, tiba-tiba saja pandanganku terhalang oleh seseorang. Itu Ray.
“Pagi Cha.. sudah datang kamu rupanya” ucapnya dari depan jendela, aku tersenyum lalu menjawab, “Ya seperti yang kamu lihat” Ray tersenyum menanggapi ucapanku, ia berjalan memasuki kelas, menuju ketempatku duduk dan ia duduk didepanku.
“Kurasa ini waktu yang tepat, bolehkan aku bicara sedikit dengamu ?”
“Tentu saja Ray”
“Jadi begini Cha, aku sudah tau kamu menyukaiku atau apalah kamu mau menyebutnya..” aku terkejut dengan ucapan Ray, dan kurasa ekspresiku sangat jelas sampai-sampai dia menunda bicaranya.
“Tak apa, lanjutkan Ray”
“Ok, jadi aku hanya ingin tanya padamu, kenapa kamu mencintaiku Cha?”
“Kenapa? Kenapa aku mencintaimu? Aku tak bisa menjawab itu Ray, karena aku juga tak tau kenapa aku mencintaimu. Kalau karena wajahmu, bukan. Pesonamu, juga bukan. Kepintaranmu, bukan. Entahlah aku juga tak mengerti kenapa aku mencintaimu”
“Ku anggap itu sebagai jawaban Cha”
Ray langsung pergi setelah mengucapkan kata-kata itu, tiba-tiba saja pikiranku bermain. Apa yang baru saja terjadi? Apa yang dikatakan Ray? Apa yang kukatakan? Apa maksud semunya?
***
Bel sekolah telah berbunyi, laporan hasil belajar sudah ditangaku. Hasilnyapun cukup memuaskan bagiku. Setelah berpamitan bersama teman-teman, aku segera berjalan pulang. Baru saja aku keluar kelas, aku sudah dihadang lagi oleh Ray. Entahlah apa yang akan ia katakan lagi.
“Acha, boleh aku minta waktumu sebentar?”
“Tentu saja Ray, sebelum kita tak bertemu selama tiga minggu”
“Tentang yang tadi pagi, aku hanya ingin memastikan apa kamu benar-benar tulus mencintaiku. Dan dari jawabanmu tadi, kurasa kamu benar-benar tulus mencintaiku. Jadi bagaimana kalau kita berpacaran?”
Apa yang baru saja Ray katakan? ‘Bagaimana kalau kita berpacaran?’ Apa Ray benar-benar berkata seperti itu? Katakan padaku ini bukan mimpi! Aku memang benar-benar mencintai Ray dari pertama aku bertemu dengannya, tapi aku tak pernah berharap bisa menjadi pacarnya. Dan sekarang ini hal yang tak pernah kuharapkan itu terjadi? Tak mungkin Ray serius, aku dan dia hanya bersahabat, bersahabat dan tak lebih.
“Acha? Bagaimana? Kamu mau tidak menjadi pacarku?”
“Eh.. Ray? Apa kamu tak salah? Bukankah kita selama ini bersahabat? Sa-ha-bat?”
“Ya.. aku tau, tapi sahabat menjadi cinta bukankan bisa terjadi?”
“Hmm.. ya itu memang bisa terjadi”
“Jadi? Apa kamu mau menjadi pacarku?”
“Kamu cari saja sendiri jawaban itu”
Aku berjalan meninggalkan Ray yang masih mematung disana, aku sengaja berakata seperti tadi karena aku juga ingin tau apakah Ray juga tulus mencintaiku.
***
Seminggu sudah liburan beralalu, tapi aku belum mendapat kabar tentang Ray sama sekali. Mungkin saja ia hanya bercanda soal menjadi pacarnya itu.
Hari ini aku hanya bersantai di kamarku sambil menbaca novel terjemahan yang baru saja kubeli kemarin sambil mendengerkan lagu-lagu Bruno Mars. Aku terlalu asik mungkin, sampai-sampai aku baru sadar jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Aku memutuskan untuk tidur, tapi tiba-tiba Hpku berbunyi. Ada telfon masuk, dari Ray.
“Hey Acha.. bisakah kamu keluar sekarang?” ucapnya dari seberang sana.
“Baiklah, tunggu sebentar ya Ray”
Aku berjalan keluar menuju halaman depan rumah. Entahlah apa yang ada dipikiran Ray, datang keruamh orang malam-malam begini.
“Hey Cha!” serunya dari depan gerbang rumahku.
“Ada apa Ray malam-malam begini?” ucapku setelah berdiri didepannya.
“Aku sudah tau kalau kamu mau menjadi pacarku”
“Dari mana kamu mengetahuinya?”
“Dari tatapan matamu waktu aku menembakmu. Maaf aku baru menemuimu sekarang, tapi ini kulakukan dengan sengaja agar kamu bisa melihat bukti cintaku”
“Hah? Bukti cinta? Apa bukti cintamu Ray?”
“Kamu tau ini tanggal berapa?”
“Hm.. 22 Juni? Ooh tidak hari ini aku berulang tahun”
“Yaa.. aku tau itu. Maka dari itu aku menemuimu sekarang, karena aku tau di ulang tahunmu yang ke 14 kamu ingin merasakan cinta bukan? Dan kamu mendapatkannya”
“Ray.. terima kasih kamu telah mewujudkan keinganku”
“Sama-sama Cha, dan mulai sekarang kita resmi berpacaran bukan?”
“Tentu saja Ray”
Ray menarikku dalam pelukannya, udara malam yang dingin membuatku merasa sangat hangat dipelukannya Ray. Aku mempelajari banyak hali baru, tentang cinta pada pandangan pertama, dan sahabat jadi cinta. 22 Juni 2011 akan menjadi malam yang tak akan pernah kulupakan, terima kasih Ray, aku mencintaimu. Ku harap kita bisa bersama melewati hidup ini sampai nanti kita berpisah karena takdir, aku benar-benar mencintaimu, ini bukan cinta monyet, ini cinta yang sebenarnya, aku cinta kamu, benar-bena cinta kamu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar