AKU tak bisa mengendalikan lagi laju kendaraanku. Terdengar suara ban mobilku mendecit-decit. Orang-orang memekik. Berpasang mata seakan ditarik pada satutitik. Aku terkejut. Mobilku menghantamsesosok laki-laki yang melintas.Sesosok tubuh itu pun terkapar di trotoar,mengejang menahan sakit. Sebelah tangannya berusaha keras tetap terkepal.Genangan air hujan yang menadah kepalanya berangsur merah saat tangan lelakiitu akhirnya rebah.
Bumi seakan berhenti bernafas. Hanya sesaat sebelum kembali riuh. Teriakan. Jeritan klakson. Titik-titik air yang meluncur serentak seperti derap sepatu tentara yangmelangkah dengan kemarahan. Secarik kertas pelan-pelan kuyup oleh rintik hujanyang kian deras.
***
Masih mengalir jelas dalam memori ingatanku. Enam tahun yang lalu, sepasang mata ini masih bisa memandang birunya langit yang berselimut awan tipis kian membumbung.Seperti cita-citaku yang tinggi untuk menjadi seorang pelukis hebat.Pada langityang biru itu, selalu saja memberiku ruang inspirasi untuk menggantungkancita-citaku setinggi mungkin. Setinggi langit yang aku lihat setiap hari.Darijendela kamar ini pun, aku masih bisa menyaksikan dengan jelas keremangan senjayang merona keemasan bersama kepak-kepak sayap burung pipit melintas dan terusmenghilang. Bahkan saat malam sebelum memejamkan sepasang mataku, aku selalumemandangi bulan yang berbingkai bintang-gemintang. Semua begitu indah.Waktuitu pun, aku masih bisa melihat dengan jelas salah satu lukisan karyapertamaku, yang kini tergantung di dinding kamar. Seakan ia menyatu dengannasibku yang kini tergantung-gantung. Lukisan yang penuh dengan warna itumembuat aku senang sekali. Dan semuanya masih terlihat jelas dalam ingatankuenam tahun yang lalu. Duniaku yang dulu. Dunia yang penuh dengan warna. Tapi,semua warna itu telah berubah menjadi gelap. Seperti kanvas yang bersimbahcairan cat hitam. Ya, sejak peristiwa itu terjadi, aku hanya mengenal satuwarna saja. Semuanya adalah hitam, gelap. Menakutkan. Sampai-sampai aku takbisa melihat wajahku sendiri saat bercermin. Dokter yang telah memvonisku butaseumur hidup setelah peristiwa itu, membuat aku membenci semuanya. Sebab akutidak rela dan aku tidak mengerti kenapa duniaku kini mendadak berubah?
Ah! Andai saja, pecahan kaca waktu itu tidak menancap di mataku. Aku mungkin tidak akan buta seperti sekarang ini. Aku harus meraba-raba ke manapun aku melangkah. Akumalu. Bahkan aku tidak akan tau, sekalipun di depanku ada jurang atau lautan.Aku membenci keadan ini. Kalau saja waktu bisa diputar ulang, aku akanmengendari mobil dengan hati-hati waktu itu. Pasti!
Tapi, kenapa harus aku yang kehilangan kedua mata ini. Tuhan sepertinya tidak adil. Aku marah. Aku begitu terpukul. Berbulan-bulan aku hanya mengunci diri di dalamkamar, bersama kedua mataku yang buta ini. Bahkan bukan saja mataku yang buta,tapi hatiku juga hampir buta. Aku telah mencoba mengakhiri hidup dengan bunuhdiri. Tapi setiap kali aku mencoba, selalu saja ada yang menggagalkanku. Akhirnyaaku sadar kalau Tuhan masih sayang denganku.
Saat itulah Rio hadir. Aku seperti menemukan mataku. Dengan kesabarannya ia mengajariku untuk mengerti hakikat hidup. Ia mengatakan bahwa Tuhan telah memberikan yang terbaikuntukku se-karang. Aku pun bisa memahaminya. Semenjak itu, bila saja terdengarkokok ayam pertanda fajar telah datang, aku terbangun dan bergegas membukajendela kamarku yang menghadap ke ufuk timur. Seakan mata ini bisa melihatterangnya sinar putih sang mentari yang merayap meninggi. Meski aku sadar, itubukanlah kenyataan, tapi aku seperti melihat harapan itu. Harapan yang selaluhadir bersama bayangannya. Rio adalah sahabatku. Aku tak sengaja mengenalnya.Aku menabraknya saat aku tersesat waktu nekat keluar rumah. Dengan tulus iamenemani dalam duniaku yang gelap hingga saat ini. Seakan ia hadir membawacahaya yang terang. Dia begitu setia. Sepanjang jalan waktu itu, ia memberikubanyak nasehat. Hingga aku bisa menemukan hidupku yang baru, meskipenglihatanku cacat. Sampai akhirnya, aku bisa tiba di rumah dengan bimbingandia.Hari ini adalah hari ke delapan aku melangkah kakiku keluar menuju kesesuatu tempat di mana aku bertemu dengannya. Tempat yang seakan telahmenemukan semangatku untuk hi-dup. Meskipun aku tidak tau tempat ini sepertiapa. Tapi aku bisa merasakan tem-pat ini terasa indah, apalagi dengankehadirannya. Aku telah memberanikan diri melangkah lebih jauh. Seperti dulu,saat mata ini masih berfungsi dengan baik. Awalnya aku hanya melangkahkankakiku dengan bantuan tongkat menyusuri teras rumah. Terus ke halaman, jalan,dan tempat ini. Di sini aku bisa merasakan terpanaan sinar mentari pagi. Akutidak peduli kulitku yang dulu putih kini menjadi gelap. Aku semakin mengenalitempat. Sekalipun hanya dengan bantuan tongkat ini aku memberanikan diribermain-main mengikuti raba-annya.Aku menunggu seseorang di sini. Seseorangyang senantiasa menguatkanku dengan keadaaku. Dengan kesabaran dan ketulusan iamengajariku untuk percaya diri. Untuk bangkit. Ya, seseorang itu adalahkekasihku. Ia adalah satu-satunya orang yang tidak pernah aku benci. Akumengenalnya begitu dekat.
“Sayang… kau kah itu?” Aku mendengar ada langkah kaki mendekatiku.
“Iya Ify, ini aku. Apa kabarmu?” Seseorang telah menyapaku. Itulah Rio. Seseorang yang begitu tulus menemaniku. Aku bahkan telah jatuh cinta pada ketulusan hatinya.Dan ia pula jatuh cinta dengan kesabaranku.
“Apakah langit hari ini begitu indah, Yo?” Aku memberanikan bertanya.
“Iya Ify. Ada tebaran awan putih di sana. Kepak-kepak burung pipit, bermain-main di udara. Langit cerah membiru. Seperti birunya hubungan kita.” Rio menggambarkansemua itu padaku.
“Kau yakin, aku akan bisa melihat langit itu kembali?”
“Ify… yakinlah suatu saat kau akan bisa melihat indahnya langit.” Rio menyakinkanku. Begitulah ia selalu memberi semangat kepadaku.
“Ya.. bila aku bisa melihat langit kembali, kita akan segera menikah.” Ucapku dengan penuh harap.
Begitulah setiap hari ia berusaha meyakinkanku. Ia tak pernah lelah mencari orang yang bisa mendonorkan mata untukku. Tapi setiap kali ia gagal, aku pula yang semakinjenuh. Tapi aku tidak pernah berhenti berdoa, hingga peristiwa besar itu telahmemisahkan kami.
***
Perempuan dengan kaus panjang warna putih, duduk di halaman depan rumah sejak pagi tadi. Matanya tertutup oleh perban putih yang melingkar di kepalanya. Tiga pekan yanglalu, ia sudah menjalani operasi mata. Dokter bilang ia akan sembuh dan bisamelihat sebagaimana orang normal lainnya. Dan ia tidak perlu menggunakantongkat lagi untuk membantunya berjalan.
Itulah aku. Aku sangat bersyukur dan berterimakasih kepada seseorang yang telah mendonorkan matanya untukku. Meskipun aku tidak tau siapa dia. Awalnya pun aku ragu. Tapi Rio,kekasihku telah memberikan dorongan yang kuat untuk menerima tawaran itu. Akupun menerimanya.
“Ify sebentar lagi engkau akan melihat betapa indahnya langit hari ini. Awan putihnya seakan berkejaran dengan riangnya mengejar pelangi di sana.” Suara Riomemecah kesunyian pagi.
“Sungguh?” Aku berbunga-bunga mendengar perkataan kekasihku. Aku bisa merasakan. Ia berdiri tepat dibelakang di mana aku duduk. Tangannya perlahan membuka perbanyang sejak kemarin menutup kedua mataku dengan hati-hati.
“Bukalah matamu perlahan-lahan Ify! Dan saksikanlah betapa langit begitu indah sekarang. Ia seakan menunggu hadirmu, Fy.”
Aku menggerakkan mataku. Aku masih takut apakah mata ini masih bisa normal kembali. Perlahan aku buka kelopak mataku. Terasa berat. Aku terus mencoba denganhati-hati. Perlahan mataku seperti diserbu ribuan berkas cahaya yangme-nusuk-nusuk mataku. Begitu menyilaukan. Perlahan semua yang tadinyasamar-samar, kini terakomodasi kian jelas. Aku takjub dengan keajaiban yang akulihat. Hatiku membuncah. Mataku telah bisa melihat keindahan langit pagi ini.Bahkan nanti, aku pasti bisa menyaksikan mentari yang merona keemasan menjemputmalam bersama kepak-kepak sayap burung senja.
“Apa yang kau rasakan Fy?”
“Aku…aku… bahagia. Aku bisa melihat langit yang membiru itu, Yo..! Aku bahagia sekali.” Aku gugup. Aku begitu terpana dengan pemandangan di atas sana. Pemandangan yangselama ini aku impi-impikan. Dunia yang selama ini gelap, sekarang begitu terangbenderang.
“Benar Fy, langit itu telah menunggu sapaanmu sejak lama.” Ucap Rio yang memegang erat bahuku sejak tadi.
“Lihat di sana ada awan putih!” Aku menunjuk ke arah kanan di mana kami berada.
“Ya! Awan putih senantiasa begitu indah, selalu meneduhkan pandangan kita.”
Aku semakin asyik melihat semuanya. Hampir-hampir aku tidak menyadari kalau Ify berdiri setia menemaniku.
“Kalau boleh aku tahu, siapa yang mendonorkan mata ini untukku, Yo?” Aku bertanya padanya. Hatiku berbunga-bunga. Membuncah dalam kesenangan.
“Dia sudah ikhlas mendonorkan matanya, Fy. Yang penting sebentar lagi kita akan menunaikan janji untuk hidup bersama. Kita akan tinggal di sebuah rumah yang telah kitaimpikan selama ini. Aku akan menikahimu Fy!”Rio berucap.Aku tersadar, akuteringat dengan janji itu. Aku membalikkan pandanganku, dengan serta merta akuakan mengatakan yang sesungguhnya kalau itu adalah impianku selama ini. Tapibibirku terkunci, saat tersadar kau seperti aku yang kemarin.
“Tidak!” Aku terperangah kaget. Aku menjauhinya.
“Ada apa Fy!?” Ia seperti mengkuatirkan keadaanku.
“Tidak…!” Aku sekali lagi terkejut dengan yang aku lihat. Aku ketakutan melihatnya.
“Ify…! Kau kenapa?” Ia kebingunan mencariku. Aku menghindar dan menepis tangannya yang meraba-raba.
“Tidak mungkin. Tidak mungkin aku akan menikah dengan orang buta sepertimu!” Aku menangis. Aku berlari menjauhinya. Ternyata orang yang selama ini begitu dengantulus menyayangiku adalah orang yang cacat penglihatannya.
“Kau bukan Rio. Rio tidak buta. Pergi Kau!” Aku mengusirnya, hingga ia harus tertatih-tatih pergi menjauhiku.
***
Selembar surat aku baca. Ada pesan singkat di sana.
Sayang…
Sekarang kau bisa melihat langit kembali. Aku begitu bahagia.
Sayangku…
Tolong engkau jaga baik-baik kedua mata yang telah aku berikan kepadamu.
Yang menyayangimu,
(Rio)
Air mataku tumpah bersama air hujan yang membasahi selembar surat yang ku pegang sejak tadi. Aku tak kuasa membaca tulisan singkat yang tidak beraturan itu. Tetes airmataku kian memendarkan surat terakhirnya. Tulisan itu seakan telah menamparkeegoisanku. Aku telah sombong dengan kedua mataku.
“Rio….!” Aku berteriak memanggil-manggil namanya. Aku tersadar kedua mataku ini adalah matanya. Kini ia telah pergi dengan mengenaskan. Dan itu berpunca dari sikapkuyang salah.
Aku terlambat meminta maaf padanya. Dan aku baru sadar, kalau tubuh itu telah terbaring lemah di atas trotoar bersimbah darah. Aku telah menemukannya tak bernyawalagi, setelah aku tega mengusirnya. Sesalku bertubi-tubi menghujani pikiranku.
~~~SEKIAN DAN TERIMAKASIH :DWASSALAMU'ALAIKUM WR.WB :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar